Cita-cita besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 adalah impian saya semenjak berkarir sebagai akademisi di salah satu universitas negeri di Kota Padang. Apalagi semenjak kepulangan saya dari New Zealand, setelah mengikuti program short course selama satu bulan, menambah keinginan saya untuk segera berangkat studi.
Awalnya saya coba memasukkan aplikasi ke Waikato University NZ, dikarenakan disana terdapat salah satu professor yang ahli dibidang yang akan saya teliti. Namun keberuntungan itu belum berpihak. I was rejected because I did not have the IELTS certificate at that time. Namun, semangat saya tetap bergejolak. Saya mencoba peruntungan berikutnya dengan melamar ke AUT, namun dikarenakan tidak ada professor yang ahli dibidang yang saya kaji di Kampus tersebut, my second apllication was rejected too.
Mungkin belum nasib saya untuk kuliah dinegara barat yang saya impikan. Saya pun melamar lagi ke USM yang punya reputasi sangat baik di Malaysia. LoA nya saya dapatkan namun mulai terpikir, siapa yang akan mendanai studi saya. Saya sudah siap dengan segala dokumen untuk kepetingan visa, namun prosesnya tidak saya lanjutkan.
Saya tidak berhenti sampai disitu. Saya mencoba untuk mencari cara bagaimana supaya saya bisa mendapatkan sertifikat IELTS tanpa harus bayar. Jiwa-jiwa pemburu beasiswa saya mulai memberi isyarat bahwa ada salah satu pusat pelatihan IELTS yang meberikan pelatihan IELTS secara gratis. I got the chance.
Selama saya mengikuti pelatihan tersebut, datang lagi tawaran untuk studi di Griffith University Australia, yang notabene adalah negara impian saya waktu masih SD. Saya dibantu oleh Ed-link untuk mengurus aplikasinya. Saya diemail oleh potential supervisor nya dan diinterview melalui skype. Kedua calon supervisor tersebut meminta saya untuk merevisi reserach proposal saya, namun dengan setengah hati saya kerjakan dan hasilnya saya ditolak kembali.
Sebetulnya saya sudah lama mecari informasi mengenai studi S3 di Taiwan melalui salah seorang teman saya yang pernah kuliah S2 di Taiwan. Berdasarkan informasi dari teman saya tersebut, saya mencoba untuk melamar di salah satu perguruan tinggi terbaik di Taiwan, khususnya bidan hospitality and tourism. Saya memasukkan lamaran ke NKUHT, dan tanpa banyak test dan prosedur, saya diterima melalui jalur beasiswa.
Ternyata Allah menakdirkan saya untuk melanjutkan studi saya di Taiwan setelah beberapa kali gagal diterima di berbagai universitas di beberapa negara. It was very tough when I leave my wife and my 2 daughters and pursuing my PhD with lots of milestones. Supports from my wife, daughters, and family are very meaningful for me.